News

Bursa saham bergejolak? Danantara siap investasi US$3 miliar

Super Admin 12 October 2026
Bursa saham bergejolak? Danantara siap investasi US$3 miliar
JAKARTA — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) membuka peluang untukmembeli saham di pasar domestik ketika terjadi gejolak, selama valuasi aset dinilai menarik.

Lembaga tersebut juga berencana menambah investasi di pasar saham dan obligasi hingga akhir 2026.

Dikutip dari Reuters, unit investasi publik Danantara telah mengalokasikan sekitar US$3 miliar untuk membeli saham dan obligasi di dalam maupun luar negeri.

Dengan mempertimbangkan kondisi pasar, lembaga tersebut berencana menambah investasi sekitar US$1 miliar hingga akhir tahun.

Kepala Investasi Publik Danantara Investment Management, Rani Piputri, mengatakan, Danantara dapat memanfaatkan peluang investasi ketika tekanan pasar hanya dipicu sentimen eksternal yang bersifat sementara.

Peluang tersebut dapat muncul jika penyedia indeks global MSCI menurunkan status pasar saham Indonesia dari kategori pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar perbatasan (frontier market).

MSCI dijadwalkan memberikan pembaruan terkait peninjauan klasifikasi Indonesia pada bulan depan.

Rani mengatakan, Danantara telah membeli saham secara bertahap sejak akhir tahun lalu, termasuk ketika pasar saham mengalami tekanan setelah MSCI memperingatkan pada Januari bahwa status Indonesia berpotensi diturunkan.

Menurutnya, Danantara dapat kembali masuk ke pasar jika penurunan harga menciptakan peluang investasi yang menguntungkan.
Namun, keputusan tersebut tetap memerlukan proses uji tuntas (due diligence).

“Kami membeli saham pada awal tahun ini karena melihat nilai investasi yang menarik. Tujuannya bukan untuk menstabilkan pasar,” kata Rani.
Ia menambahkan, tekanan pasar dapat membuka kesempatan untuk membeli aset dengan harga lebih rendah sebelum nilainya kembali meningkat.

Strategi Investasi Danantara

Danantara diluncurkan pada awal 2025 dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.
Lembaga tersebut mendapat mandat mengelola aset negara senilai sekitar US$900 miliar yang tersebar di 1.000 perusahaan serta memanfaatkan dividen untuk memaksimalkan hasil investasi.

Dalam pengelolaan portofolio investasi publik, sekitar 65% aset Danantara ditempatkan pada saham, 30% pada instrumen pendapatan tetap, dan 5% pada dana lindung nilai (hedge fund). Sekitar seperempat portofolionya dialokasikan ke Indonesia.

Rani mengatakan, Danantara juga mengambil pendekatan hati-hati dalam berinvestasi di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI).

Menurutnya, lembaganya tidak menganggap AI sebagai gelembung investasi yang akan segera pecah, tetapi tetap berhati-hati karena dinilai terlambat dalam memasuki sektor tersebut.

Ia menilai kekhawatiran investor terhadap potensi gelembung dapat membantu menjaga disiplin pasar.
Sebaliknya, jika seluruh pelaku pasar menganggap AI sebagai investasi yang selalu menguntungkan, risiko pasar perlu diwaspadai.

Dalam wawancara terpisah, Direktur Pelaksana Hubungan Global dan Komunikasi Danantara Indonesia, Pahala Mansury, mengatakan Danantara menargetkan imbal hasil investasi sebesar 200–300 basis poin di atas biaya modal.

Sebagai pembanding, biaya modal tersebut merujuk pada penerbitan obligasi dolar AS bertenor lima tahun pada Juni, yang menawarkan imbal hasil 5,35%.
Danantara juga berpeluang mempertahankan dividen sebesar Rp120 triliun atau sekitar US$6,7 miliar yang sebelumnya disebut akan disetorkan kepada pemerintah pada tahun ini.

Pahala mengatakan, Danantara masih membahas persoalan tersebut dengan Menteri Keuangan, Suahasil Nazara.

Sejauh ini, terdapat indikasi bahwa Danantara masih dapat mengelola dividen tersebut, tetapi keputusan akhir belum ditetapkan.

Bukan untuk Intervensi

Pahala menegaskan, Danantara tidak memiliki mandat khusus untuk menstabilkan pasar keuangan.

Menurutnya, kegiatan investasi lembaga tersebut harus dipandang sebagai upaya memperdalam pasar keuangan dan memperbaiki tata kelola, bukan sebagai bentuk intervensi pasar.

Danantara ingin memastikan keputusan investasinya tidak menimbulkan persepsi bahwa pemerintah sedang mengintervensi pergerakan harga saham.

Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia.

Dengan demikian, peluang Danantara membeli saham ketika pasar melemah tetap bergantung pada pertimbangan valuasi dan kelayakan investasi, bukan semata-mata untuk menopang indeks saham. (ARF)


Konten ini bersifat edukasi, bukan rekomendasi jual/beli saham. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Mau diskusi & update analisa saham?

Gabung grup Telegram LIZSTOCK atau hubungi admin kami.

Artikel Terkait